PERLUNYA ATURAN YANG KETAT PADA SISWA
Meninggalnya Rina Siswa kelas XI SMA Negeri 1 Banjarnegara sehabis olahraga pada hari Jum'at (8/1) tentu perlu kita garis bawahi bahwa betapa beratnya beban guru penjasorkes (olahraga). Targedi ini sudah tentu ini hal sangat tidak diharapkan oleh siapapun. Kita semua yakin bahwa sekolah mempunyai aturan-aturan yang ketat tentang perlunya pemantauan kesehatan para siswanya.
Demikian juga dengan keikutsertaan siswa dalam berolahraga, juga harus diawasi dengan ketat. Setidaknya ada aturan yang mengatur bagaimana siswa yang dapat mengikuti pelajaran olahraga. Jangan sampai siswa yang kurang tidur, kurang istirahat, dan sedang sakit ataupun yang mempunyai penyakit bawaan, itu mengikuti olahraga, apalagi olahraga yang berat.
Seringkali orang tua juga lalai memberitahu pihak sekolah (guru olahraga) bahwa anaknya menderita penyakit tertentu. Sementara anaknya juga malu untuk memberitahu gurunya. Komunikasi yang terputus ini kadang menjadikan tragedi.
Tidak hanya itu saja, kadang peristiwa meninggalnya siswa karena terlalu beratnya siswa dalam beraktifitas dipelajaran olahraga. Memang berat ringannya olahraga juga tergantung dari kebiasannya di rumah atau pada saat awal pertumbuhannya. Hanya saja, para guru olahraga biasanya mengukur siswa berdasarkan angka-angka kesegaran jasmani yang minimal dari siswanya.
Untuk mengurangi semua kemungkinan yang terburuk pada saat berolahraga adalah adanya aturan dan komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua serta siswa itu sendiri. Niscaya hal-hal yang kurang baik dapat diminalisir.
Di sisi lain, kita juga menyadari bahwa indeks kesehatan bangsa kita ini memang rendah. Mau tidak mau ini juga perlu ditingkatkan dengan mengajak semua pihak untuk mengerti tentang pentingnya kebugaran jasmani bangsa Indonesia. Dan, untuk itu perlu memperbanyak gerak tubuh kita, terutama gerak yang teratur melalui olahraga yang terukur.
Dari : Taufan Arif N, S.Pd - Pelatih Fisik Tenis SPTC Tegal dan juga Guru Penjasorkes SMPN 15 Kota Tegal






