Kampanye Politik (Bukan) Panggung Sandiwara

E-mail Print PDF

Berjuta jurus menggaet simpati pemilih dilakoni para caleg beberapa waktu kini, ada yang mulai pasang bendera, baliho, stiker foto calon. Ada juga yang mulai merapat ke tokoh masyarakat, ulama, pendeta bahkan tokoh preman untuk sekedar meminta dukungan maupun do’a restu. Ada juga yang sontak berlagak dermawan dengan menyebar ”uwur” sembako, kaos dan kalender gambar caleg. Ini semua bermuara pada gerakan-gerakan ”mencuri kampanye” karena resminya kampanye pemilu legislatif belum dilaksanakan.

Harapan kita budaya kampanye pemilu legislatif nantinya bisa mulai mengkonsentrasikan pada masalah-masalah tematis dan mulai menggeser cara-cara pragmatisme dangkal. Pengumpulan massa dan pengibaran bendera memang tidak bisa ditinggalkan dalam setiap kampanye. Tetapi yang lebih mendasar bukan hanya dengan pengerahan massa tetapi bagaimana merencanakan sebuah kampanye menjadi menarik dan menjanjikan perubahan.

Parpol dan kandidat legislatif dituntut memulai sebuah strategi yang benar-benar baru. Misalnya, memberikan contoh unsur-unsur kampanye yang berbeda dari kampanye pemilu pada umumnya, yakni meliputi unsur teknik, target dan sebagainya.

Kita bisa melihat kemenangan Barac  Obama karena ditunjang ketika ia  berakrobatik memainkan isu dalam kampanye pemilihan Presiden AS. Kemenangan Bibit Waluyo dalam Pilgub Jateng karena permainan isu kampanye  Bali Ndeso Mbangun Deso yang begitu menyihir, juga kemenangan Ikmal dalam Pilwalkot Tegal disamping kemenangannya dalam membangun aliansi partai pendukung juga karena permainan isu kampanye Kesejahteraan Rakyat yang digulirkan dengan password Gerbang Mas Kota Bahari.

Semestinya pemilihan caleg di Kota Tegal mulailah bermain dengan isu tentang keadilan sosial, masalah tenaga kerja dan pendidikan yang bisa menjadi isu sentral kampanye pemilu legislatif mendatang. Meskipun bobot masing-masing bidang tersebut tentunya sangat berbeda.

Pemilih pinggiran yang cenderung tradisional tentu akan lebih mengutamakan keadilan sosial dan perekonomian, sedangkan pemilih terpelajar akan banyak menuntut perbaikan ekonomi, juga lapangan kerja dan pendidikan justru menjadi faktor yang lebih penting. Pada dasarnya substansi pembahasan tema kampanye ini akan  menentukan motivasi pemilihan.

Meskipun bagi pemilih tradisional komposisi figur akan sangat menentukan pilihannya, karena pemilih tradisional lebih melihat ikatan idiologis sosok kandidat daripada pilihan atas dasar program. Sementara pada pemilih rasional yang terpusat di perkotaan akan lebih memilih menurut substansi program.
 
Oleh karenanya, pemilih tradisional sering terjebak dalam kampanye yang meletakan penampilan tokoh-tokoh sebagai daya tarik tanpa memandang kapabilitas. Artinya, penampilan kandidat yang sensasional lebih menyihir sebagai daya tarik, daripada visi dan program. Ketika faktor visi dan program cenderung dikorbankan, maka oreintasi pemilih hanya melihat penampilan saja.

Pada pemilu legislatif 2009 untuk caleg DPRD ada yang menarik ketika parpol mengusung tokoh-tokoh lokal yang dekat dengan akar rumput. Ikatan sentimen idiologis pada masa kini  akan semakin memudar karena meningkatnya sentimen emosional dan kedekatan dengan caleg menjadi dasar pilihan. Jika demikian persaingan antar caleg bukan hanya dengan parpol lain tetapi ia akan bersaing  didalam parpolnya juga. Apalagi untuk parpol yang  mendasari suara terbanyak untuk menduduki kursi, tentu persaingan  sengit ada di dalam parpol.

Personalisasi Politik

Pemilih kita tidak bodoh. Mereka akan melihat kampanye bukan lagi sebagai retorika-retorika kosong atau pola-pola “adu citra”. Karena bagaimanapun, pemilih kini telah memiliki antena yang lebih peka untuk menilai kemampuan kandidat. Terutama kepada peran caleg yang telah duduk sebagai DPRD peran apa yang pernah dimainkannya saat duduk sebagai wakil rakyat, apakah kerja mereka hanya mengejar  fasilitas atau sungguh-sungguh mengemban amanat dan aspirasi rakyat ?

Sejalan dengan perkembangan ini setiap kampanye harusnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang konsekuensi politik, yakni tentang peluang dilakukannya reformasi dan perspektif pembelaan aspirasi rakyat. Pertanyaan ini tidak hanya berhenti di sini saja, namun masih ada pertanyaan-pertanyaan lain, yakni tentang munculnya faktor-faktor yang menentukan sikap pemilih dalam pemilu tersebut, tentang arti kondisi ekonomi dan tentang pengaruh personalisasi yang meliputi moralitas figur kadidat.

Sehingga dalam pemilu legislatif 2009 di kota Tegal diharapkan munculkan peran pribadi kandidat (personalisasi) yang konsekuen dan dapat diinterpretasikan sebagai teori kepahlawanan politik. Teori kepahlawanan politik ini barangkali patut dikemukakan menjelang kampanye legislatif 2009, karena beberapa hari ini banyak anggota DPR/DPRD kita yang tersandung kasus korupsi, main perempuan, kasus narkoba dan tindak pidana lainnya sehingga banyak masyarakat mempertanyakan kembali sosok mereka sebagai wakil rakyat.

Pada saat ini yang dikhawatirkan adalah pola-pola ”penghukuman” terhadap mereka maupun partainya dalam bentuk tidak mengikuti pemilu(golput). Pemilu legislatif 2009 akan berbeda dengan munculnya tuntutan yang kuat terhadap aktualisasi figur kandidat. Mereka yang berhasil meraih kesuksesan adalah yang mampu mepresentasikan moral dan keyakinan politik mereka secara kompak, utuh dan talenta politik yang sangat menonjol.

Dengan kata lain, loyalis (pemilih) sewaktu-waktu bisa saja menjadi “musuh” mereka, karena tidak adanya visi dan kinerja yang dianggap kredibel ketika mereka menjadi wakil rakyat. Meskipun bagi pemilih tradisional sering terjebak oleh sihir penampilan tokoh-tokoh yang memikat tanpa memandang kapabilitas, tetapi siap-siap saja mereka kecewa ketika melihat kiprah pilihannya. 

Ketika faktor visi dan program cenderung dikorbankan, oreintasi pemilih hanya melihat penampilan. Maka yang akan muncul adalah petualang-petualang politik, para oportunis dan orang-orang pemegang kapital dan kekuasaan yang akan mementaskan panggung politik karena merekalah yang bisa memainkan panggung sandiwara politik.

Fenomena meningkatnya angka golput dalam pilkada Pilgub dan Pilwalkot Tegal beberapa waktu lalu merupakan indikasi merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap politisi. Masyarakat cenderung jenuh pada perhelatan politik, pemilu dipandang sebagai kegiatan rutin yang nyaris tidak memberikan perubahan signifikan. Akibatnya partisipasi masyarakat terhadap kegiatan politik menjadi rendah.

Realisasi janji kampanye sering dilupakan ketika mereka telah duduk sebagai wakil rakyat atau pemangku kekuasaan. Jika tujuan jangka panjang strategi politik hanya untuk kemenangan saja, maka perjuangan politiknya tampak sebagai perjuangan ke arah kekuasaan semata atau hanya menggapai kekayaan pribadi. Oleh karenanya, pada masa kampanye pemilu 2009 nanti yang perlu diusung adalah reaktualisasi kampanye tematis dan kontrak politik. Dimana ajang kampanye bisa dilihat sebagai medium pendidikan politik, dialog politik dan konsultasi politik.

Dalam hal ini kampanye tematis menjadi wacana yang bersifat strategis, dan jika kita ragu akan janji kampanye itu, maka pilihan ”menghukuman” terhadap mereka tentunya merupakan pilihan lain secara politik.


Turah Untung adalah  Anggota Komunitas Penulis Pantura.

Last Updated ( Sunday, 04 January 2009 23:20 )  




Bursa Rumah/Tanah

Butuh Uang
Dijual Rumah tinggal, SHM. LT +/- 330 m2, Satu rmh utama & 2 Rmh petak,garasi,lstrk 900 W dan 450 W,Lok. Jl. Kembang II Ds. Tembok Luwung Adiwerna Tegal Peminat serius Hub: 0283-3327060, 081902000540

Statistik

Content View Hits : 74026