“LASKAR PELANGI” HARI INI

E-mail Print PDF

LASKAR Pelangi, demikian judul novel bestseller karya Andrea Herata. Novel yang sudah diangkat ke layar perak dan sukses berat itu menceritakan sepuluh siswa SD Muhammadiyah Gelong, Belitung, dalam menggapai mimpinya menaklukkan dunia. Dengan didikan etos Muhammadiyah yang penuh kesederhanaan lewat Kepala Sekolah dan ibu guru Muslimah untuk menjadi orang yang “banyak memberi, bukan banyak menerima”, “jangan pernah menyerah”, dan “selalu berlomba dalam kebaikan” yang militan, mereka menjadi laskar-laskar pelangi.  Kesepuluh siswa SD Muhammadiyah yang bangunannya sangat sederhana, bahkan bobrok itu, menyimpan magma dan diva pelajar Muhammadiyah: menyimpan mimpi menaklukkan dunia.

Pelajar Muhammadiyah yang bersumpah setiap pagi “Kami Pelajar Muhammadiyah: (1) Menjunjung tinggi perintah agama Islam; (2) Hormat dan patuh kepada orang tua dan guru; (3) Bersih lahir batin dan teguh hati; (4) Rajin belajar, giat bekerja dan beramal; (5) Berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara!”. Sumpah atau ikrar yang sangat menggetarkan jiwa yang dibaca setiap pagi sejak bangku TK Bustanul Athfal sampai Perguruan Tinggi! Empat anak-anak saya yang lulusan sekolah Muhammadiyah, meski kini telah kuliah di ITB, masih tetap membaca ikrar “Pelajar Muhammadiyah” itu. Ikrar itu yang membuat guru Muslimah tetap dikenang dan dijelang sepanjang hayatnya. “Guru Muslimah-Guru Muslimah” yang lain dikenang dan dalam mimpi selalu dijelang oleh pelajar-pelajar Muhammadiyah. Itulah Laskar-Laskar Pelangi.

 Laskar Pelangi dulu adalah pelajar Muhammadiyah yang bersahaja, sederhana, percaya diri, berani, militan, memendam etos belajar yang menyala, etos kerja yang tinggi, dan etos perjuangan yang membara untuk hidup berguna secara terhormat. Clifford Geertz dalam penelitiannya di Mojokuto (baca: Pare, Kediri) sebagaimana direkam dalam bukunya Paddlers and Princes (1960) menemukan etos tersebut di kalangan wirausahawan santri reformis putra Muhammadiyah. Usaha mereka berhasil karena, katanya, perintah agama Islam hanyalah dua: bekerja dan sembahyang. Dan sembahyang itu hanya menghabiskan waktu beberapa menit saja!

Walhasil, sebagian terbesar dari waktu anugerah Tuhan adalah untuk belajar dan bekerja keras. Belajar dan bekerja adalah bagian integral dari perintah agama. Berbeda dengan Rene Descartes yang mengatakan “Aku berpikir maka aku ada”, doktrin Laskar Pelangi adalah “Aku bekerja maka aku ada”. Maka tak heran jika semboyan Pandu Hizbul Wathon Putra Muhammadiyah yang dulu sangat masyhur itu adalah “Sedikit bicara banyak bekerja”. Bukan “banyak bicara banyak kerja”, atau  “sedikit bicara sedikit bekerja”, apalagi “banyak bicara sedikit bekerja”. Sebab sikap yang terakhir ini dipandang sebagai sikap hidup yang paling buruk.

Mereka hidup bersahaja, asketik, sederhana, tidak boros, tidak suka selametan dan sesajen yang boros dan muspra. Itulah sebabnya mereka disebut oleh orang yang tidak mengerti sebagai sikap teologis yang puritanisme. Padahal intinya bukan teologi, melainkan sikap hidup bersahaja dan sederhana. Tidak suka hal-hal yang muspro! Mereka suka menabung dan bermental sukses karena sesuai dengan doktrin sukses yang mengajarkan bahwa ajaran Tuhan yang benar mutlak harus sukses. Mana mungkin ajaran yang benar dibiarkan gagal oleh Tuhan Yang Maha Benar? Geertz menemukan semacam etika asketis dalam kebanyakan wirausahawan putra Muhammadiyah. Mirip dengan apa yang ditemukan Max Weber dalam penelitiannya terhadap orang-orang Calvinisme di Eropa Barat sebagaimana terekam dalam magnum opus-nya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism.

Bagaimana lascar pelangi kini?

  Laskar Pelangi dulu menyimpan magma dan diva kejuangan yang puritan dan asketis yang sangat dahsyat dan mengesankan, persis seperti yang digambarkan Andrea Herata dalam novelnya itu. Lihatlah, mereka puritan dan asketis tetapi sangat inklusif dan pluralis seperti tergambar dalam latar belakang kesepuluh Laskar Pelangi itu. Tetapi marilah kita tinggalkan soal pluralis dan inklusif ini karena memang tulisan ini tidak sedang membicarakan tema itu, melainkan tentang etos kejuangan Laskar Pelangi masa itu.

Tetapi bagaimana dengan Laskar-Laskar Pelangi hari ini? Cobalah amati tiga lingkaran Laskar Pelangi hari ini. pertama, pelajar-pelajar dan mahasiswa perguruan Muhammadiyah; kedua, anak-anak keluarga Muhammadiyah; dan ketiga, para aktivis belia Muhammadiyah seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul Aisyiyah (NA), Pemuda Muhammadiyah (PM), dan tapak Suci Putra Muhammadiyah. Amatilah mereka: apakah mereka masih menyimpan magma dan semangat Laskar Pelangi sebagaimana tersebut di atas?

Saya belum melakukan penelitian secara akademis. Tetapi berdasarkan pengamatan partisipan yang saya jalani selama ini saya khawatir jawabannya cenderung negatif. Kekhawatiran ini terutama di kalangan lingkaran yang ketiga. Saya sudah lama tidak melihat militansi Laskar Pelangi di lingkaran terakhir ini. Mereka justru cenderung tidak bersahaja, sikapnya lembek, kurang percaya diri, sentimental, dan sedikit romantis. Mereka gampang mengeluh menghadapi setiap tantangan dan permasalahan. Fatalnya, mereka terlalu gampang mendefinisikan apa yang disebut dengan “tantangan” itu. Sedikit ada permasalahan yang sebenarnya sangat elementer langsung saja dikatakannya sebagai tantangan.

Tidak cukup banyak saya temukan pelajar Muhammadiyah melanjutkan studi di luar negeri. Jumlah mereka yang belajar di negara-negara Timur Tengah minoritas. Apalagi di negara-negara Barat. Etos belajar “carilah ilmu sampai ke negeri Cina”,   “Carilah ilmu sejak dari buaian ibunda sampai menjelang masuk ke liang lahat”, dan “Barang siapa tidak mau berlelah-lelah mencari ilmu maka rasakanlah gelapnya kebodohan sepanjang hayatnya”, tampaknya tidak lagi bergelora seperti dulu.Semangat berpetualang ke negeri jauh untuk mencari ilmu dengan semangat viveri veri koloso, yang nyerempet-nyerempet bahaya, tidak lagi tampak di kalangan mereka.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah juga tidak lagi banyak berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. Tak heran jika karakter lulusan didikan sekolah-sekolah Muhammadiyah juga tidak banyak berbeda dengan lulusan sekolah-sekolah yang lainnya. Saya tidak tahu apakah pimpinan Muhammadiyah sekarang ini risau dan galau terhadap fenomena ini.

Laskar Pelangi politik?
 
Bagaimana lagi di bidang politik? Mereka dulu berikrar menjadi orang yang “Bersih lahir batin dan teguh hati”; “Rajin belajar, giat bekerja dan beramal”; dan “Berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara!”. Tetapi bagaimana sepak terjang Laskar Pelangi di bidang politik dan kenegaraan? Di lapangan ini mereka dikenal sebagai gampang mengeluh. Mereka mengelah dan mengatakan bahwa Partai Amanat Nasional (PAN) sudah bukan lagi milik Muhammadiyah. Padahal mereka sendirilah yang dulu mengklaim secara sepihak bahwa PAN itu partainya Muhammadiyah. Mengapa sepihak? Sebab, setelah saya teliti dokumen-dokumen PAN ternyata memang tidak ada satupun bukti tertulis yang menunjukkan bahwa PAN itu kepunyaan Muhammadiyah.

Makanya aneh kalau kemudian mereka merasa kehilangan atau ditinggalkan PAN. Benar, pendiri partai itu memang Prof. Dr. Amien Rais (mantan Ketua PP Muhammadiyah), tetapi bukan Muhammadiyah. Bahkan Muhammadiyah sendiri secara resmi (official) menyatakan tidak memiliki hubungan kelembagaan dengan partai apapun dan manapun! Dan juga, Prof Amien Rais hanyalah salah seorang pendiri saja. Di samping dia ada banyak pendiri lainnya yang bukan orang Muhammadiyah.

Jadi, atas dasar apa mereka mendefinisikan PAN sebagai telah lepas dari Muhammadiyah? Apakah hanya karena partai bersimbol matahri biru itu sudah tidak lagi dipimpin kader Muhammadiyah sebagaimana layaknya mereka lantas dikatakan sebagai lepas dari Muhammadiyah? Ataukah jangan-jangan mereka mengatakan hal itu karena mereka kalah berkompetisi atau bertarung memperebutkan kepemimpinan di partai itu? Alangkah naifnya berpolitik dengan menggunakan Muhammadiyah sebagai alat dan pengayomnya!  

Kini mereka, anak-anak Muhammadiyah itu, Laskar-Laskar Pelangi masa kini itu, mendirikan partai baru bernama Partai Matahari Bangsa (PMB). Tidak ada yang salah dengan pendirian partai itu. Yang salah adalah orang yang menyalahkan. Mendirikan partai adalah hak konstitusional setiap orang dan dijamin oleh Konstitusi kita, UUD 1945. Politik adalah bidang yang mulia untuk ditekuni sebagai sarana beribadah mengabdi pada bangsa dan negara. Tetapi meski demikian juga bukan bidang yang paling mulia. Tergantung pada I’tikad hati dan niat kita untuk apa berpolitik. Dan juga politik itu adalah bidang kehidupan yang sangat likuid dan harus disikapi secara rasional juga.

Maka pendirian PMB adalah cermin sikap ksatria para lascar pelangi itu. Saya amati dari dekat mereka bersungguh-sungguh dengan partai baru tersebut. Dan sangat mengejutkan, tanpa dana yang memadai, PMB lolos menjadi peserta Pemilu 2009 nanti. Lebih mengejutkan lagi beberapa survey menunjukkan bahwa PMB telah masuk dalam sepuluh besar. Artinya, jika jika ritme perjuangan mereka konstan dan konsisten sampai Pemilu 2009 nanti PMB akan berhasil memasukkan Laskar-Laskar pelanginya di Parlemen, sebuah medan perjuangan politik yang sangat strategis.

Jika mereka berhasil mengaktualisasikan doktrin sukses Muhammadiyah yang bersahaja, asketis, sederhana, militan, tidak boros, dan sedikit bicara banyak kerja, insya Allah mereka akan berhasil. Sangat tidak masuk akal jika Laskar Pelangi kalah canggih dengan partai-partai tua seperti Golkar, PDIP, dan PPP. Apalagi sangat malu kalau Laskar Pelangi pengikut Ahmad Dahlan kalah cerdik dibandingkan anak-anak alumni usroh dan pengajian kampus yang ada di PKS atau PAN.

Majulah, Laskar Pelangi! Tunjukkan dan buktikan bahwa pilihan politik saya selama ini salah! Wallhu a’lam bi ‘l-shawab!


Hajriyanto Y. Thohari, mantan pelajar Muhammadiyah dan ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah.

 




Bursa Rumah/Tanah

Butuh Uang
Dijual Rumah tinggal, SHM. LT +/- 330 m2, Satu rmh utama & 2 Rmh petak,garasi,lstrk 900 W dan 450 W,Lok. Jl. Kembang II Ds. Tembok Luwung Adiwerna Tegal Peminat serius Hub: 0283-3327060, 081902000540

Statistik

Content View Hits : 73954