- Menyelamatkan cagar budaya lewat sekolah
Dari waktu ke waktu materi mata pelajaran (mapel) sejarah selalu diwarnai dengan kontroversi yang tidak pernah berhenti. Seperti turunnya peraturan Mendiknas No 7 Tahun 2005 tentang Penghentian Uji coba “Kurikulum 2004” untuk mata pelajaran sejarah dan penggunaan buku teks mata pelajaran sejarah yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi “Kurikulum 2004”.
Tetapi ada hal urgen yang terlupakan, yaitu dikesampingkannya materi sejarah lokal dalam pembelajaran di sekolah. Hal ini menimbulkan beberapa catatan dan pertanyaan bagi birokrat pembuat kebijakan pendidikan. Begitu berkuasakah pusat terhadap daerah, sampai mengabaikan manajemen berbasis sekolah, dan mengesampingkan sejarah lokal masuk materi pelajaran sejarah?
Memang saat kekuasaan pusat semakin superior, realitas lokal cenderung diabaikan. Hal itu terjadi di semua daerah. Situasi ini berimbas pada sejarah lokal, yang semakin terlupakan. Kondisi demikian diperparah dengan minimnya akses masyarakat untuk mengetahui secara detail peristiwa sejarah lokal daerahnya.
Tidak mengherankan bila masyarakat awam melupakan dan bahkan sama sekali tidak tahu tentang sejarah lokal. Apalagi bila dikaitkan dengan peristiwa nasional, bisa lebih tidak tahu lagi, dan hal itu diperparah dengan tidak masuknya materi pelajaran sejarah daerahnya di tingkat nasional.
Bahkan sudah tidak aneh lagi bila guru sejarah sendiri sering tidak tahu secara detail tentang sejarah lokal. Padahal mereka adalah ujung tombak informasi para generasi muda, untuk tidak lupa asal usulnya sekaligus pengambilan pelajaran dan teladan dari peristiwa lampau. Sehingga memberikan azas manfaat khusus demi kelangsungan hidup manusia supaya lebih beradab. Kalau pendidiknya minim pengetahuan seperti itu, akan dibawa kemana siswanya?
Memang semua itu karena minimnya publikasi dan dokumentasi yang kurang menarik dari pembuat kebijakan lokal. Makanya sering sulit mencari bahan sejarah lokal. Padahal kalau saja sosialisasi sejarah lokal dikemas dengan lebih menarik tentu akan mampu membuat penyadaran tentang pentingnya penyelamatan cagar budaya di daerahnya.
MUATAN LOKAL
Lepas dari bagus tidaknya penulisan sebuah sejarah lokal, perlu dipikirkan dan dipertanyakan, mungkinkah ada materi sejarah lokal -minimal sisipan- dalam pembelajaran sejarah di sekolah?
Dan, yang perlu diperhitungkan adalah bagaimana pentingnya sejarah lokal dalam menanamkan pemahaman tentang fenomena masa lalu dalam berbagai aspek agar dapat menjelaskan persoalan di masa kini. Sehingga dapat memahami pengetahuan dan kearifan lokal yang merupakan realitas sosial setempat. Juga alat memahami dinamika masyarakat lokal dan keterkaitannya dengan lokalitas lain. Atau manfaat lain sejarah lokal yang merupakan bagian dari hiden curicullum yang selama ini terabaikan.
Kalau dalam sejarah lokal, perjuangan para pahlawan diharapkan bisa menjadi inspirasi para pelajar untuk gigih dalam memperjuangkan keinginannya. Dan, mencintai arti pengorbanan. Bahkan kalau bisa menjadi kekuatan moral dan penawar bagi berkembangnya sikap snoobish, hedonis, dan konsumerisme bagi generasi muda.
LEWAT MGMP DAN MBS
Permasalahannya adalah para guru sering menginferiorkan dirinya sendiri, sehingga terjebak pada silabus yang ‘kaku’. Padahal silabus sendiri membuka ruang untuk berapresiasi, apalagi mapel sejarah tidak diujikan secara nasional. Jadi sangat mudah bagi guru mapel sejarah untuk ‘berakrobat’.
Apalagi kalau mau kreatif dan inovatif, tentu bisa ‘bermain’ lewat musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) sejarah. Melalui forum tersebut dapat membuat model penulisan atau model pembelajaran sejarah lokal yang tidak membebani siswa.
Kalau lewat MGMP tidak bisa, kenapa tidak melakukan pembelajaran sejarah lokal dengan dasar adanya manajemen berbasis sekolah (MBS). Guru yang berprofesi sebagai pendidik, dalam MBS, punya otoritas di sekolah termasuk dalam memilih atau membuat buku pelajaran dengan mengedepankan nilai-nilai moralitas dan akademik.
Hal ini bisa dipertanggungjawabkan asal kepala sekolah, guru, dan komite sekolah duduk bersama mempertanggungjawabkan materi ajar. Kalau sudah dilandasi dengan keterbukaan dan pertimbangan yang ilmiah, siapapun pasti tidak akan mampu menghalanginya.
Di sisi lain, kalau saja guru berwawasan luas tentu tidak tergantung buku maupun silabus. Memang buku dan silabus diperlukan tetapi bukan segala-galanya, apalagi pelajaran sejarah jika terjebak pada aspek kognitif, menghapal peristiwa-peritiwa yang ada dalam buku tentu tidak banyak membawa manfaat.
Coba kalau dalam sejarah lokal, siswa diajak ‘napak tilas’, untuk mengenal lebih mendalam latar belakang berbagai peristiwa di daerahnya. Alangkah indahnya kalau itu terjadi, dan tanpa disadari akan menghargai apa yang layak dihargai.
Jika nilai-nilai kebanggaan lokal sudah tertanamkan, dimungkinkan cagar budaya atau situs-situs sejarah lokal akan terselamatkan. Kita berharap kasus dibangunnya Pusat Informasi Majapahit di atas situs Trowulan, robohnya cagar budaya yang berupa gedung KODIM di Ciamis Jawa Barat dan bekas Kantor Residen Belanda di Palembang merupakan peristiwa terakhir ambruknya situs cagar budaya.
ANI ZUBAEDAH
Guru IPS (Geografi) SMP Negeri 3 Talang - Tegal






