RUU APP, SEKOLAH PINGGIRAN, DAN REALITAS KELUARGA

E-mail Print PDF

Bagi yang kontra pembahasan Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Porno aksi (RUU APP) alasannya tentu banyak dan seringkali lebih menekankan pada persepsinya sendiri, seperti pandangan mereka yang mengaku seniman, namanya seni adalah seni. Demikian juga bagi artis yang sudah terbiasa menjual tubuhnya dengan cara berpose indah dan syur, tentu akan tidak akan menyetujui disahkannya RUU APP tersebut.
Bahkan ada tokoh yang menilai bahwa tidak tepat diberlakukannya RUU APP. Yang diperlukan dalam mengatasi pornografi dan pornoaksi adalah pendidikan kebudayaan dan moralitas. Dan untuk itu diperlukan pendidikan yang membentuk karakter di bidang moralitas dan seni. Tetapi pertanyaannya benarkah semudah itu solusinya?
Seni atau Porno?

Selama ini memang kita melihat bahwa perbedaan seni dan pornografi makin buram. Coba kita lihat ke belakang pada festival film Cannes 2005 yang diadakan di Perancis. Dimana saat itu ada sebuah film yang berjudul Batlle In Haven karya sutradara asal Meksiko, Carlos Reygados, menjadi film yang sangat menghebohkan. Karena menggambarkan hubungan seksual secara vulgar, film itu dikatakan tidak berbudaya dan tidak berseni. Tetapi sutradaranya berkilah bahwa itu seni karena sangat natural, sangat indah.


Hal ini perlu menjadi catatan semua pihak, di negara yang liberal saja hal itu dirasa kurang patut apalagi di negara kita. Bagaimanapun kita harus cerdas, jangan memaksakan bahwa seni itu seni. Jangan berpikir bahwa seni adalah kebebasan tanpa batas, itu pemikiran barbar, kalau primitip masih ada aturannya. Hanya saja yang menjadi pemikiran kita apakah Play Boy dan majalah biru atau media porno lainnya tidak perlu dilarang dan untuk itu perlu memperkuat pendidikan yang membentuk karakter?

Keluarga Sudah Siap?

Perlu dikaji kembali bahwa yang namanya pendidikan (secara singkat) ada beberapa tahapan. Pertama adalah pemaksaan atau pelarangan kemudian penyadaran akhirnya keikhlasan. Dan, untuk itu dalam perjalanannya perlu ada hukuman untuk mendisiplinkan, serta curahan kasih sayang.  Tetapi pendidikan tidak bisa kita rasakan sesaat, hasilnya baru kita rasakan beberapa tahun ke depan. Dalam pendidikan yang paling banyak berperan membentuk akhlak (karakter) adalah keluarga.
Tetapi coba kita lihat berapa keluarga yang benar-benar mengawasi apalagi mendidik anaknya dengan benar. Apakah mereka tahu bagaimana pergaulannya di luar bersama teman-teman sebayanya (peer group)? Bahkan kalau mau jujur mereka banyak yang sudah melimpahkan pendidikan anaknya kepada sekolah. Padahal sekolah sangat terbatas kemampuannya, bahkan tidak mungkin mendidik siswanya secara komprehensif, sesuai norma-norma edukatif.

Tidak mengherankan banyak orang tua yang mengeluh saat libur panjang anaknya, sulit untuk diatur katanya, lebih baik sekolah saja. Bahkan mereka menyampaikan kepada sekolah kalau tidak tahu bagaimana cara mendidik anaknya. Keluarga inti saja yang tidak mampu mendidik anaknya, apalagi sekolah harus memikul beban berat yang sarat dengan titipan.
Maka tidak mengherankan kalau para gurunya sendiri tidak tahu bagaimana mengikuti perkembangan anak didiknya. Sehingga mereka sering terkaget-kaget saat dikasih tahu kalau siswanya terbiasa mengunjungi situs-situs porno.
Memang anak-anak sudah jauh berlari di luar jangkauan kita. Bahkan kalau mau jujur  pergaulan bebas di kalangan anak sekolah sudah sangat memprihatinkan. Ini belum bicara bagaimana suasana keluarganya.

Kalau melihat di sekitaran lingkungan kita, berapa anak yang tidak ditunggui oleh orang tuanya atau rumahnya berhunian ganda (lebih dari satu keluarga dalam rumah)? Apakah dengan kondisi tidak sehat seperti itu mereka mampu menahan derasnya informasi tanpa bekal pendidikan kepribadian dari keluarga yang memadai?


Dan, penulis sebagai praktisi pendidikan yang pernah mengajar di beberapa sekolah pinggiran mendapatkan fakta dimana siswa-siswanya jauh dari yang diharapkan. Seperti berasal dari keluarga yang kurang harmonis, kurang mampu, dan tanpa pengawasan serta mudah terbawa pada alur yang kurang sehat. Banyak anak sekolah yang sudah ‘keluar’ dari jalurnya. Apakah kita egois dan tega untuk tidak setuju pengesahan RUU APP tanpa melihat anak-anak kita yang berada di sekolah pinggiran, yang jauh dari proteksi nilai-nilai moral keluarga?


Mari kita biasakan melihat sesuatu dengan pemikiran yang komprehensif dan jujur serta ilmiah. Untuk melihat tahapan kita, apakah perlu pelarangan atau penyadaran? Jujur sajalah bahwa kita masih memerlukan pelarangan, maka RUU APP harus segera kita sahkan, dan pelarangan majalah biru yang akan mengganggu perkembangan anak-anak kita harus di larang. Setuju atau tidak, mari kita lihat dengan nurani kita! Kalau RUU APP terganjal masalah keragaman budaya, itu bisa diatur, siapa bilang sulit?


TAUFAN ARIF NS
Anggota Lembaga Informasi dan Pustaka PDM Kota Tegal

 




Bursa Rumah/Tanah

Butuh Uang
Dijual Rumah tinggal, SHM. LT +/- 330 m2, Satu rmh utama & 2 Rmh petak,garasi,lstrk 900 W dan 450 W,Lok. Jl. Kembang II Ds. Tembok Luwung Adiwerna Tegal Peminat serius Hub: 0283-3327060, 081902000540

Statistik

Content View Hits : 73946