Menulis sebagai suatu keterampilan bagi siswa saat ini sepertinya diabaikan. Padahal dengan menulis maka berbagai tingkatan keterampilan berbahasa dapat dikuasai dengan baik. Keterampilan berbahasa secara umum dapat dibagi menjadi empat tingkatan yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Dengan menyimak maka dapat secara langsung mengapresiasi yang didengar. Kemudian dari menyimak maka kita dapat menyampaikan pendapat secara lisan, dan ekspresif. Dari keterampilan berbicara maka diharapkan dapat membaca secara aktif. Kalau kita membaca secara aktif berarti bisa mengambil yang baik dalam bacaan tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan kalau pasif hanya sekedar membaca tanpa mengambil arti pentingnya. Dengan sering membaca maka dalam berbicara akan semakin tertata dan mudah menyampaikan pendapat . Sehingga memperlihatkan intelektualitas yang mampu memecahkan masalah dengan akal tanpa kekerasan.
Sedangkan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Kegiatan menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif, cerminan dari tatanan lanjutan penguasaaan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Dalam kehidupan modern ini jelas bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Bahkan merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Sebab dengan menguasai menulis maka dapat menyampaikan pemikirannya untuk dibaca orang dengan jelas, karena memakai struktur kalimat yang baik. Dan, untuk dapat menulis siswa perlu membaca yang mendalam. Karena untuk dapat menulis yang baik kita perlu berbagai referensi yang harus kita dapatkan dari membaca berbagai buku.
PEMBELAJARAN DARI PERPUSTAKAAN
Tetapi keterampilan menulis tidak akan datang begitu saja, melainkan harus melalui latihan dan praktek yang banyak dan teratur. Kita mengakui bahwa pelajaran di sekolah yang mendukung pembelajaran supaya dapat menguasai empat keterampilan berbahasa hanya pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Tetapi muatan pelajaran tersebut yang mendukung terciptanya apresiasi siswa dalam menulis hanya merupakan bagian kecil saja.
Pelajaran bahasa Indonesia lebih banyak menekankan struktur bahasa, bukan bagaimana menulis yang baik. Memang dengan menguasai kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang benar maka hasil tulisan kita akan lebih matang. Tetapi sayangnya pengembangan untuk pelatihan keterampilan menulis hanya sekilas saja. Tentu ini sangat tidak kondusif dalam menampung apresiasi siswa dalam menulis.
Sayangnya guru sendiri kurang mendorong siswa mengunjungi dan meminjam buku di perpustakaan sekolah. Kalau saja perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik maka pelajar akan mendapatkan manfaat yang banyak. Tetapi disamping malasnya siswa itu sendiri juga karena terbatasnya koleksi buku-buku yang ada dan kurang menarik di dalam perpustakaan.
Permasalahan yang lain adalah kurangnya jam kunjungan ke perpustakaan. Jam berkunjung siswa hanya pada saat istirahat saja, sedangkan waktu itu sering digunakan siswa untuk istirahat, ke kantin. Di samping itu pihak guru sendiri kurang begitu intensif mendorong siswa berkunjung ke perpustakaan.
Sedangkan untuk mengunjungi perpustakaan daerah (perpusda) juga mengalami kesulitan karena jam kunjungan yang terbatas. Seharusnya perpustakaan daerah juga buka di luar jam kerja, bahkan pada waktu libur tanggal merah dan malam hari juga buka sehingga memudahkan siswa mengakses dan meminjam buku-buku di perpusda. Hanya saja saat ini perpusda memang kurang kondusif, dan katalognya belum dibuat secara digital. Bahkan bukunya sendiri terkesan kurang terawat dan sepertinya kurang banyak bacaan yang baru serta menarik.
Mungkin pada saat gedung baru perpusda berdiri, digitalisasi sudah diterapkan sehingga memudahkan pengunjung dalam mencari buku. Tinggal mencari judul buku atau pengarangnya maka akan dapat langsung mendapatkannya, tidak perlu mencari-cari kesana kemari yang menghabiskan banyak waktu.
Dari kondisi yang ada maka jangan salahkan kalau siswa sendiri malas untuk belajar lewat buku-buku yang ada apalagi mengunjungi perpustakaan. Untuk itu perlu adanya dorongan dari sekolah seperti yang dilakukan oleh SMA Ihsaniyah Tegal, menggiring siswanya mengunjungi perpusda Kota Tegal.
MENULIS SEBAGAI SUMBER ILMU DAN NAFKAH
Dari kondisi yang ada maka tidak ada kata terlambat bagi kita membelajarkan siswa untuk menulis dan meningkatkan ilmu pengetahuan lewat keterampilan berbahasa. Perlu indoktrinasi pada siswa betapa pentingnya menulis, bahkan dalam jaman yang sangat sulit mencari pekerjaan seperti sekarang, keterampilan berbahasa khususnya menguasai keterampilan menulis tidak saja meningkatkan kepandaian dan wawasan tetapi dapat juga sebagai sumber nafkah.
Dengan menguasai keterampilan menulis maka diharapkan dapat menjadi penulis lepas, seperti menjadi essais, cerpenis, novelis, atau kolumnis. Bahkan mungkin menjadi wartawan dari berbagai media seperti media cetak, maupun media elektronik.
Tetapi semua itu perlu belajar dan belajar. Karena pekerjaan apapun harus dilandasi dengan pengetahuan umum yang luas, yang diperoleh dari berbagai referensi yang ada. Tanpa latar belakang pengetahuan umum yang luas maka tidak mungkin akan bekerja dengan baik. Tetapi semua itu juga harus dilandasi juga dengan tanggungjawab sosial, yaitu interes dengan berbagai aspek kehidupan dan rasa tanggungjawab terhadap kebenaran. Untuk itu sebagai pelajar harus belajar dengan tekun dan ulet serta berani. Jadi apapun yang akan terjadi kita harus punya motto, bahwa “menulis adalah belajarku!”
TAUFAN ARIF N
Anggota Paguyuban Komunitas Penulis Pantura






