Paling tidak terdapat tiga fokus utama dalam pengajaraan sains di sekolah, antara lain pemberian berbagai pengetahuan ilmiah yang dianggap penting untuk diketahui siswa. Dalam hal ini sains dipandang sebagai produk.
Kedua, sains dipandang sebagai proses dan metoda pemecahaan masalah untuk mengembangkan keahlian siswa dalam memecahkan masalah. Ketiga, pandangan yang lebih luas tentang sains yakni dampak sains dan teknologi terhadap masyarakat.
Seorang guru akan berpandangan bahwa ketiga kompenen tersebut penting dalam pengajaran dan pengembangan pemahaman siswa tentang sains.Walaupun begitu pandangan tersebut mestinya dalam proporsi yang tepat dari masing-masing pendekatan. Apalagi bila hal tersebut secara specifik akan diajarkan pada tingakatan usia tertentu dan keberagaman kemampuan siswa dalam satu kelas, maka seorang guru di sekolah lebih bisa menjawab tantangan ini.
Namun demikian, pengajaran sains memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan disiplin ilmu lainnya. Oleh karenanya, seorang guru dituntut dapat memperkaya pemahaman siswa tentang sains melalui berbagai pendekatan baik berupa sikap, nilai dan pemahaman alami sains .
Sains Sebagai Produk
Ilmu pengetahuan sifatnya dinamis karena terus berkembang dengan berbagai penjelasan dan paparannya. Sementara itu ternyata hanya sebagian kecil dari hal tersebut yang dapat diajarkan di sekolah . Padahal tujuan dari pengajaran sains sebagai produk mestinya lebih mengarah pada pengembangan pemahaman konseptual siswa terhadap sains. Sehingga isi pelajaran sains yang memuat berbagai fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum alam ,model-model dan teori-teori akan membentuk pengetahuan formal ilmu pengetahuan.
Pengajaran sains disekolah diharapkan tidak mandeg., karena selama ini pengajaran sains baik latihan pemecahan masalah maupun percobaan di laboratorium yang umumnya mempunyai jawaban tunggal. Semestinya hubungan materi pelajaraan di sekolah dengan sains hedaknya tidak kering dan harus terus berkembang.
Pada kenyataannya sangat sedikit materi sains yang di ajarkan di sekolah yang merupakan versi yang masih berlaku, kebanyakan isi buku teks hanya merupakan risalah singkat dari pengetahuan sains atau versi terbatas dari pandangan sains.
Pendekataan pengajaraan sains saat ini pun masih memunculkan focus yang bersifat hanya pemindahaan pengetahuaan dari guru ke siswa dimana berbagai komponen pengetahuan (seperti konsep-konsep. hukum-hukum, teori-teori) yang biasanya ditampilkan guru menjadi kebenaraan tunggal.
Metoda pengajaran yang digunakan pun cenderung tradisonal dimana peran guru sangat dominan. Kalau pun menggunakan metoda laboratorium , prosedur pratikumnya sebatas model ‘resep masak’ yang terstruktur dan berurutan serta bertujuan untuk memperkuat pemahaman siswa akan materi pelajaran yang telah diajarkan.
Sejarah pengajaran sains dunia, khususnya di Negara Barat yang kemudian berpengaruh ke berbagai negara lain seperti Indonesia, menunjukan adanya perubahan pola pengajaran sains yang mendasar . Kesuksesan Uni Soviet tahun 1957 lalu dalam meluncurkan satelit pertama buatan manusia ke luar angkasa,membuat kaget Amerika Serikat dan mengakibatkan perlunya mengubah pendekatan pengajaran sains. Hasilnya adalah kurikulum sainspost-Sputnik diajarkan di sekolah-sekolah agar siswa sejak awal telah terbiasa berpikir dan mempunyai pengetahuan seperti halnya ilmuwan.
Meskipun pada akhirnya berbagai riset tentang pengajaran sains ini ternyata menunjukan bebarapa kelemahan, diantaranya beban pelajaran yang terlalu padat, tingkat abstraksi yang terlalu tinggi dan rumit bagi rata-rata siswa, serta pola dasar , struktur , urutan pelajaran sains yang rumit. Sehingga diperbaiki berupa penyederhanaan materi dan perubahaan struktur pelajaran dengan maksud lebih mendekatkan dengan kehidupan nyata siswa.
Sementara untuk pelajaran biologi sekolah misalnya, American association for the Advancement of Science menerbitkan laporan pada tahun 1993 dengan nama “Benchmarks for Science Literacy” yang juga di kenal dengan nama “project 2061”. Pokok bahasan pengajaran biologi ini memuat keberagaman mahkluk hidup dan hereditas. Sel, interdependensi antara mahkluk hidup, aliran materi dan enegi, dan evolusi.
Sedangkan Australia Academy of Sciences membuat riset tentang pegajaran kimia di sekolah yang hasilnya adalah perlunya mengenalkan kimia berdasarkan fakta-fakta yang mudah dikenali siswa. Hasilnya adalah buku teks, terbit tahun 1984, dengan menyusun materi pelajaran berdasarkan tema dari teori komponis alam dari zaman kuno yang berjudul “Elements of Chemistry: Earth, Air, Fire and Water ”.
Kedua contoh diatas menunjukan bahwa isi pelajaran sains sebagai produk mulai mengalami pergeseran pendekatan sesuai dengan perkembangan zaman dan riset terbaru, sehingga apa yang diajarkan di sekolah-sekolah akan sangat tergantung dari analisis dan perencanaan yang dilakukan oleh guru mata pelajaran sains.
Kurikulum yang terakhir diterapkan di Indonesia, disebut dengan KTSP (kurikulum tingkat satuan pelajaran) yang memakai acuan dengan istilah standar kompetensi dan kompentensi dasar lebih memberikan fleksibilitas pada guru dalam hal penyusunan pengajaran sains sebagai produk.
Sains Sebagai Proses
Sains sebagai proses mempunyai pendekatan berbeda dengan sains sebagai produk. Fokus utamanya adalah dalam hal upaya sains untuk melakukan pemecahan masalah yang tertentu. Secara umum, hal ini berarti para siswa didorong untuk menggunakan ketrampilan yang dimiliki seperi halnya ketrampilan dan keahlian para ilmuwan dalam memecahkan masalah ilmiah.
Berbagai keahlian dan ketrampilan sangat bernilai bagi siswa untuk memahami pelajaran sains maupun diluar konteks pelajaran. Oleh karenanya, pengajaran sains sebagai proses menuntut perubahan metoda mengajar dari pola pengajaran sains sebagai produk.
Buku teks sains biasanya dituntut mendorong proses pengajaran dalam pemahaman siswa, sementara proses yang diterapkan oleh guru yang tidak tesktruktur akan sulit diterima siswa, oleh karenanya membutuhkan keahlian dan ketrampilan mengorganisasian yang baik dari seorang guru sains.Para siswa diharapkan bisa terlibat secara individu atau dalam kelompok kecil untuk melakukan rencana mereka sendiri. Pengaturan ada pada siswa , sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan bukannya mengatur.
Tentu saja pengajaran pola ini akan terasa mengancam kewibawaan guru. Ketika seseorang guru mengajar dengan pola buku teks, dia menentukan tujuan pembelajaran dan dapat mengetahui secara pasti materi pelajaran yang akan diberikan. Namun akan lain pendekatan pengajaran dengan metoda sains, siswa memandang sesuatu sebagai proses melalui penelitian dan berhadapan dengan masalah nyata yang akan memunculkan pertanyaan yang tidak secara mudah dijawab, dan bisa jadi malah tidak ada jawaban dapat diketahui secara pasti. Disini siswa didudukkan sebagai individu sainstis.
Sujilah, A.Md adalah Guru SDN Kaladawa 02, Kec. Talang.
Alamat : Debong Kidul RT:02/I Tegal Selatan.






