Cerbung Episode 18: Ibu, Istri, dan Guru pun Dihabisi | Tegal Info

Cerbung Episode 18: Ibu, Istri, dan Guru pun Dihabisi | Tegal Info

Markonah melihat Flavia berhenti bicara. Seorang wanita dengan rambut pirang, mata biru laut, bibir tipis dengan warna biru tua, dan payudara kembar bertanda kapak, mencengkeram sebatang rokok. Selanjutnya, dia membakar dan merokok dengan keras. Kepulan asap membubung ke udara dari cerobong asap.

Segera setelah Nero terbunuh, dia menceraikan istrinya sejak awal pernikahan, tanpa cinta dan tanpa anak. Saat itu Poppaea Sabina sedang mengandung anak Nero dan menikah dengannya pada hari kedua belas setelah perceraian Claudia Octavia.

Dada Markonah naik turun. Flavia terus mengobrol.

Claudius Octavia mengasingkan Nero dan istrinya ke pulau Pandateria atas tuduhan palsu perzinahan. Claudia Octavia, yang telah menjadi permaisuri, populer di mata rakyat, dan warga menggerutu menentang perlakuan Nero. Mereka secara terbuka menunjukkan tanda-tanda yang menyerukan agar mereka kembali.

“Ketika kemudian Claudia Octavia muncul di benaknya,” Flavia memulai ceritanya, “pelayannya disiksa sampai mati. Dia membuat Nero kedinginan dan ketakutan di sekujur tubuhnya. Seorang Romawi tradisional telah terbunuh!”

“Sayang!” seru Markonah dengan mata terbuka sambil menutup mulutnya dengan dua telapak tangan. Sementara Flavia dan Joanna dores tidak berpengaruh.

Istri Nero kemudian dicekik dan tubuhnya direndam dalam air mendidih, sementara kepalanya dipenggal dan dikirim ke Poppaea Sabina.

Flavia kecokelatan. Markonah melihat bibir Flavia bergerak lagi. Naga ingin bicara.

“Kejahatan Kaisar Nero luar biasa. Kemarahannya unik. Dia sudah kehilangan otaknya, nyungsep! Dia membunuh ketiga istrinya dengan nakal. Dia juga memukul dan sujud Poppaea Sabina saat dia hamil.”

Aturan artikel Markonah. semangatnya naik dan turun lagi dan lagi.

“Istri kedua Bobia terbunuh karena dia sering memikirkan Nero pulang terlambat.” Istri ketiganya, Statilia, yang dibunuh oleh suaminya, juga terbunuh pada akhirnya.

Raut wajah Markonah, kakak Ireng. Darahnya naik ke atas. Dia menekan kemarahan orang lain di dadanya.

“Nero juga memerintahkan tuannya untuk mewaspadai kematiannya sendiri karena dia sering mencoba mengendalikan rencananya dengan susah payah. Kemudian dia kehilangan berat badan dan menjadi lebih berani.

Markonah membenamkan wajahnya di meja batu. Salju semakin berat dan berat, seperti kupu-kupu terbang yang jatuh dari langit. Di langit hamparan langit terlihat kelabu. Dia melakukan ini untuk waktu yang lama. Kali ini dia tidak bisa menahan napas. Dia merasa jiwa dan pikirannya terkoyak.

*Lanjutan……

Baca juga : Berita Tegal