Korban Tanah Bergerak di Sirampog Hanya Bisa Pasrah Meski Rumahnya Sudah Miring – Panturapost.com | Tegal Info

Korban Tanah Bergerak di Sirampog Hanya Bisa Pasrah Meski Rumahnya Sudah Miring – Panturapost.com | Tegal Info

PENDEK – Kondisi rumah-rumah yang terkena dampak pemindahan tanah di Dusun Krajan, Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes terlihat memprihatinkan. Para korban langsung meminta bantuan kepada pemerintah.

Pantauan di lokasi Sabtu (22/3) pagi, beberapa bangunan yang rusak terlihat masih muda. Tembok-temboknya sobek, bahkan ubin-ubinnya sepertinya sudah dicopot oleh penghuninya.

Ground breaking terjadi di area rumah. Namun hampir semua orang yang tinggal di rumah tersebut juga prihatin dengan kondisi tersebut.

Salah satu pemilik rumah, Wasikotul Jannah, 44, mengatakan bahwa ia secara bertahap melepas ubin dari rumahnya. Sekarang, bagaimanapun, dia tidak punya niat untuk pindah, meskipun dia tidur di sebuah toko di dekat rumahnya.

“Sebenarnya lahan itu sudah dipindahkan, tapi ini masih yang pertama. Tidur di toko untuk pertama kalinya!” mengatakan.

Dia dan tiga anak laki-laki dipaksa tidur di tokonya. Wasikotul masih di rumah menunggu bantuan dari pihak terkait.

Lalu dia menceritakan awal malam. Dan terdengar suara bising dari atap rumah. Segera beberapa kayu dan ubin jatuh.

“Dua minggu lalu kami mulai mendengar suara keras. Genteng dan atap mulai retak dan melebar. Nah kemarin lebih parah saat hujan,” katanya.

Menurut dia, tanda-tanda pergerakan di lapangan dimulai sebelum kalender Februari-Februari 2022. Meski intensitasnya kecil, di beberapa titik sudah ada patahan.

Hal ini diperparah dengan banjir bandang yang pernah terjadi di Sungai Keruh. Saat itu, sungai menghantam tebing di dekat pemukiman warga.

Seorang warga Sofiyah lainnya mengalami kondisi serupa. Dan lebih buruk. Dia yang tinggal di sebelah rumah Wasikotul hanya bisa memberi.

“Berhenti saja, tapi kamu tidak bisa bergerak. Saat dia tidur di ruang tamu, lakukan saja,” katanya.

Rumah Wasikotul, Sofiyah dan 3 warga lainnya berada di tepi sungai Keruh. Dan dia merasa tanah rumahnya cepat dipindahkan setelah banjir dari sungai keruh di belakang rumahnya.

“Awalnya dua rumah di sebelah pintu gerbang geser. Kemudian lantai rumah mulai retak. Meski suami mau memperbaiki, tapi besoknya kok retaknya melebar?” dia berkata.

Sofiyah dan suaminya langsung meminta bantuan kepada pemerintah. Karena mereka terpaksa tidak pindah, karena tidak punya lahan lagi.

“Suami saya dan saya memiliki penghasilan yang tidak pasti karena kami adalah satu-satunya petani. Kami mohon bantuan pemerintah,” ujarnya.

Editor: Irsyam Faiz

Baca juga : Berita Tegal