Pembinaan dan Kolaborasi, Cara Pertamina Bangkitkan UMKM untuk Berdikari – Info Tegal | Tegal Info

PENDEK – Salah satu kunci sukses dalam menghasilkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) adalah dengan mengembangkan kemitraan atau kolaborasi untuk meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini terlihat dari upaya PT Pertamina Persero melalui PT Pertamina Patra Niaga Jawa Tengah mendorong pengembangan UMKM menuju kemandirian yang berkelanjutan.

Di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, untuk gr. Dalam lima tahun terakhir, ratusan pelaku UMKM telah terbantu melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), dari PT Pertamina Terminal Oil (TBBM) Boyolali.

UMKM binaan Pertamina bergairah memutar roda perekonomian (Menguras Masa Depan Anda) di Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali. Diantaranya adalah UMKM yang mengolah produk tumbuhan esensial untuk menghasilkan berbagai jenis sabun mandi, sabun cuci piring, asam karbol, hand sanitizer. Kemudian batik ditulis oleh kelompok telanjang atau cacat (difabelpeneur).

UKM seperti mitra Pertamina bersama tim diundang ke kelas dan Go Global. Sehingga pelaku UMKM bisa mandiri dan berkembang. Bahkan, mereka sedang manggung di Desa Tawangsari yang saat ini sedang ditayangkan oleh anggota Sanggar Sriekandi Patra. Mereka telah memproduksi batik berkualitas sejak 2018 hingga sekarang.

Selama pandemi COVID-19 selama dua tahun terakhir, aktivitas mereka dihentikan sementara. Omzetnya juga turun, karena mereka mencoba menjual batik yang disimpan di Sanggar Sriekandi. Namun, mereka perlahan mulai bangkit untuk mulai berinovasi.

Batik ditulis sebagai selai di Boyolali. (Foto: Fajar Eko Nugroho)

Karya batik diproduksi dengan motif baru untuk pilihan konsumen yang berasal dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Kain batik tenun tangan ini disulam dengan tangan dengan berbagai motif yang dibuat oleh orang-orang yang berharap untuk tetap berkreasi untuk mencari nafkah.

Patra Sriekandi adalah kelompok pengusaha difabel yang digagas oleh Yuni Lestari. Dalam penelitian ini, penyandang disabilitas diajarkan keterampilan membatik dari dasar hingga mahir.

Berdirinya Sriekandi Patra berawal dari mimpi Yuni yang juga sebagai palsi serebral dari Desa Tawangsari. Karena motivasi dan semangatnya, Yuni dan rekan-rekan penyandang disabilitas mendapat dukungan Pertamina, antara lain studi Sriekandi Patra dan dukungan permodalan dengan dukungan Pertamina sebesar Rp 180 juta di tahun 2018. Tak lama kemudian, ia belajar membatik di PR YAKKUM Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan pelatihan, Yuli kembali ke desanya dan memulai lokakarya untuk belajar difabel di Patra Srikandi pada 9 April 2018. Selain Yuni, ada Siti Patimah yang kini menjadi relawan dan pengurus di Patra Sriekandi. Bersama beberapa relawan lainnya, Siti merasa tergerak oleh keinginannya untuk membantu para penyandang disabilitas untuk berkreasi dan tetap mandiri.

Hingga saat ini kelompok Srikandi Patra memiliki 6 anggota yang dibantu oleh 4 orang relawan dari ibu-ibu Desa Tawangsari. Salah satunya adalah Darmawan, remaja berusia 18 tahun yang menderita cerebral palsy, seperti Yuni.

Sebelumnya, Darmawan, yang akrab disapa Wawan, hanya bisa menghabiskan hari-harinya di kursi roda. Sangat sulit baginya untuk menulis sendirian. Namun, keterbatasan Wawan dalam menggunakan jari tidak menghalanginya untuk bergabung dengan Sriekandi Patra. Keunggulan unik Wawan membuatnya menarik karena Wawan menggunakan kuas medium untuk mengukir guratan-guratan lilin panas pada kain batik.

Wawan, penyandang disabilitas Boyolali membuat batik. (Foto: Fajar Eko Nugroho)

“Awalnya sulit, tapi saya mencoba untuk belajar. Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan batik tulis ini,” kata Darmawan, saat ditemui di Sanggar Sriekandi Patra, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Oktober 2022 lalu.

Dengan keterbatasan yang ada, Wawan mampu menyelesaikan dua batik tulis 2×2 meter hanya dalam waktu satu bulan. Metode pemasaran, kecuali di telepon juga offline Batik tulisnya ditawarkan mulai dari Rp 600.000. Dan jenis yang paling mahal adalah produk batik dengan harga Rp 1 juta ke atas.

“Yang penting saya bahagia dan diberkati di sini. Dengan kegiatan membatik, hasrat hidup saya berhenti dan menjadi kebanggaan,” ujarnya.

Bersaing dengan anggota lainnya, pada tahun 2018, produk batik Sriekandi Patra juga dipamerkan dalam pameran kerajinan terbesar di Indonesia, INACRAFT. Hal ini pun mendapat penilaian positif dari desainer ternama Anna Avantie.

Tak hanya itu, karena telah membantu sebanyak 350 penyandang disabilitas di Kabupaten Boyolali melalui beberapa program pembinaan dan kerjasama, Pertamina juga berhasil meraih medali emas untuk kategori inovasi sosial dalam ajang Liga Provinsi 2022 yang diselenggarakan oleh Energy & Mining. Editor. Masyarakat (E2S). ) melalui program Difabelpreneur di Kabupaten Boyolali.

Kembangkan Desa Esensial Xystum

Selain mendorong dan berkolaborasi dengan kelompok rentan, Terminal Pipa BBM Pertamina (Persero) juga mendukung UMKM minyak atsiri di Desa Teras, Kecamatan Teras untuk berkembang.

Mereka yang tergabung dalam Langit Teras adalah petani, kelompok yang menanam tanaman esensial dan mengolahnya menjadi berbagai produk. Diantaranya, minyak serai, sabun mandi beraroma serai, sabun cuci piring serai, dan asam karbol untuk serai. pensanitasi tangan serai

Petani Langit Teras mengolah sekelompok tanaman Atsiri menjadi berbagai produk. (Foto: Fajar Eko Nugroho)

Sebelum proses, mereka menanam tanaman esensial di lahan seluas 1,8 hektar. Untuk umur tanaman esensial yang dapat dikoleksi, dibutuhkan umur minimal 90 hari.

“Tanah ini awalnya tidak subur, jadi kami mencoba menanam tanaman esensial di sini. Ternyata dia bisa beruntung setelah mengolah lahannya terlebih dahulu sehingga dia benar-benar siap,” kata Sugiarto, anggota kelompok udara Tani Teras saat ditemui Atsiri di areal perkebunan.

Sugiarto juga mengucapkan terima kasih kepada Pertamina yang telah memberikan edukasi dan dukungan bagaimana mengembangkan essential plant. Termasuk mengolahnya menjadi lebih banyak produk yang memiliki nilai ekonomis.

Minyak atsiri diperoleh dengan cara penyulingan tumbuhan atau minyak atsiri yang diekstraksi dari bagian tumbuhan dan diperoleh melalui proses penyulingan atau penyulingan menggunakan tabung dan tungku.

Sebagai industri UMKM rumahan, kapasitas penyulingan Langit Teras masih terbatas. Bahkan proses penyulingan tidak dilakukan setiap saat karena menyesuaikan dengan panen tanaman esensial.

Tapi itu membutuhkan penyulingan hingga seperlima dari bahan baku. Misalnya, setiap kali Anda membuat sulingan serai dapur, dibutuhkan satu kuintal tanaman serai untuk menghasilkan sekitar satu kilogram minyak. Untuk sekali panen, mereka mengambil 1,2 ton tanaman esensial. Untuk distilasi maka lakukan 5-10 liter. Harganya mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu per liter.

Petani Langit Teras mengolah sekelompok tanaman Atsiri menjadi berbagai produk. (Foto: Fajar Eko Nugroho)

“Disini kami bekerja sama dengan UMKM, ibu-ibu yang berinovasi mengolah minyak atsiri ini. Mereka menggunakannya untuk membuat sabun, sabun mandi, karbol, hand sanitizer. Alhamdullilah hasilnya lumayan bagus dan dibeli di pasaran dengan harga terjangkau. ,” dia berkata.

Namun karena keterbatasan lahan dan kapasitas produksi minyak atsiri, hanya minyak atsiri yang ada yang diproses. Ke depan, Sugiarto dan kelompok tani lainnya akan menanam tanaman esensial secara lebih luas. Dengan demikian, hasil meningkat dan produk yang dihasilkan juga meningkat.

Bahkan, produk yang dihasilkan pabrik Atsiri berupa sabun, sabun cuci piring, dan hand sanitizer ini sudah memiliki pelanggan tetap dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah.

“Produk dari pabrik Atsiri ini kami proses secara terpisah.” offline dan di atas garis Kami juga memberikan untuk berkemas produk dengan model modern. Terima kasih atas respon baik dari masyarakat dan terus order terus. Sampai kita kalah,” katanya.

Dalam satu bulan, 5 ibu UMKM warga Desa Teras ini mampu menyelesaikan seribu galon sabun, termasuk sabun mandi dan sabun batangan. pensanitasi tangan.

Petani Langit Teras mengolah sekelompok tanaman Atsiri menjadi berbagai produk. (Foto: Fajar Eko Nugroho)

“Kami berharap dapat mengekspor produk kami ke pasar berikutnya. Kami yakin dengan terus berkembang, kami akan terus meningkatkan kualitas produk minyak atsiri ke depan,” jelasnya.

Pertamina dorong UKM mandiri

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & Corporate Social Care (CSR) Regional Jawa Tengah PT. Pertamina Patra Niaga, Brasto Galih Nugroho mengatakan, mendorong dan menjalin kerjasama dengan UMKM, kelompok rentan penyandang disabilitas atau pelaku UMKM pada umumnya merupakan langkah tepat untuk memulihkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita semua tahu bahwa negara kita diberkahi dengan sumber daya alam yang melimpah, keragaman etnis, budaya dan tradisi. Tak terkecuali seni dan kerajinan. Program edukasi dan kerjasama UMKM ini memiliki sinergi ekonomi yang sangat kuat,” kata Brasto.

Dalam program edukasi dan kerjasama yang dilakukan Pertamina, kata dia, bertujuan untuk mendorong para pemimpin bisnis di daerah. Menjadi Modern, Go Digital, Online dan Go Global. Menurutnya, pada pencatatan tahap lanjut, kunci suksesnya adalah mendorong mitra untuk meningkatkan dan menaikkan nilainya.

“Pertamina ingin mengajarkan kebebasan usaha kecil agar siap menjadi wirausahawan yang tangguh dan mandiri. Kami memberikan kegiatan pelatihan di telepon” pungkasnya.

Editor: Irsyam Faiz

Baca juga : Berita Tegal