Sapu Lidi Penangkal Hujan, Mitos atau Fakta? – Panturapost.com | Tegal Info

Sapu Lidi Penangkal Hujan, Mitos atau Fakta? – Panturapost.com | Tegal Info

UNTUK* Orang Indonesia, hujan tahun harus dilakukan untuk mencapai kesuburan bagi seluruh dunia. Tanpa hujan, sawah mengalami pembusukan dan kekeringan. Tiba-tiba kehidupan manusia meledak dan hutan kering membeku dan sering terbakar karena tidak tahan dengan panasnya matahari.

Namun, hujan juga berdampak pada orang-orang yang ingin mengadakan perayaan di luar ruangan atau saat ingin bepergian.

Oleh karena itu, jika hujan terus menerus, sebagian orang mengira akan mengusir hujan.

Bagaimana orang Jawa bisa menjadi alternatif untuk menahan hujan sejenak?

Ada dua cara mengitari dua cerita yang diyakini masyarakat Jawa dalam pengecoran atap.

Cara pertama ini sering kita jumpai di masyarakat pedesaan. Ternyata efektif menahan hujan.

Cara kedua tentu saja dengan mencoba membangun lebih banyak cabai merah dengan mencoba membelah kayu menjadi kumpulan sapu.

Cara ini juga sangat efektif. Kejadian ini disaksikan ketika di kawasan Rt 04/Rw 3, Desa Slerok, Kota Tegal, saat akan melaksanakan peringatan HUT RI ke-77 baru-baru ini, langit tertutup awan tebal. Rencananya waktu itu agak khawatir akan turun hujan.

Salah satu anggota dari salah satu manajemen hiburan menyarankan organisasi rencana untuk membangun spartan dengan satu tongkat lombok merah menempel. Setelah persyaratan terpenuhi, kayu juniper ditanam di tanah.

“Alhamdulillah acara Gusti Allah berlangsung tanpa hujan,” kata Suwarno yang terkadang melakukan hal tersebut dalam rangka memperingati HUT RI ke-77.

Pertanyaannya, mengapa spartan legendaris untuk sementara bisa mengusir hujan?

“Entah kenapa, itu warisan Pak Maior,” katanya.

Lanang Setiawan

kolumnis dan novelis, penerima Penghargaan Sastra “Rancage” 2011.

Baca juga : Berita Tegal